Langsung ke konten utama

Dia Juga Tak Ingin Begitu

 





POV:


Laut Dendang, Selasa, 16 Februari 2021


sumber gambar: hipwee

        Selasa malam selepas ibadah maghrib, ku langkahkan kaki menuju kedai sampah di depan gang, tak sampai lelah kaki dan tak sampai bercucur keringat. Aku tiba disambut dengan seorang bapak yang langsung mengubah air mukanya dan menaikkan alis, menandakan isyarat “Mau beli apa?”.

        Aku terdiam sejenak, mataku liar memandangi sembako, jajanan semasa kecil yang berbaris rapi tergantung, dan kulkas mini yang ku tahu menyimpan berbagai macam rasa minuman. Ntahlah sudah menjadi kebiasaan ku, ketika ingin membeli sesuatu di warung se-per-sekian detik harus lupa apa yang harus ku tukarkan.

***

        Aku mengambil deterjen, minyak goreng kemasan dengan sendirinya, biasanya juga begitu, apa yang bisa diambil sendiri oleh pembeli, pemilik warung tidak akan pernah marah, justru membantu lelahnya berkurang. Tanpa kujawab pertanyaan dari raut muka si bapak, saling diam beberapa detik lalu sepertinya memberikan pewajaran. Ia pun melayani pembeli lain, dan aku sibuk mencari kebutuhan selanjutnya.

        “Mang mau beli pulsa!” sambut seorang pria yang ku terka seumuran denganku. 

        Ia datang dengan gaya seperti ingin lebih dulu dilayani, suaranya keras, namun terdengar tidak begitu jelas, tapi aku yakin memang kalimat itu yang dimaksudnya. Kertas kecil bertuliskan nomor telepon yang semakin menguatkan keyakinanku, bahwa pulsalah yang ingin dibelinya di kedai ini.

        Jangan heran, sekarang pulsa memang sudah bisa dibeli dimana-mana, meskipun telah hadir berbagai aplikasi canggih untuk membeli apapun yang kita mau, tapi kedai sampah tetap menjadi favorit warga untuk membeli kebutuhan komunikasinya, iya pulsa maksudnya.

        “Beli apa? Busa? Rusa? Pusla?” kata sang bapak menyahuti.

        Aku yakin, sang bapak juga mengerti apa yang dimaksud pria itu, kertas dan nomor telepon yang ditunjukkannya cukup jelas memberi jawaban dari maksud dan tujuannya ke kedai ini.

        Kalian tahu? Hal ini benar-benar sering terjadi—

        Berkali-kali si bapak terus mepelesetkan kata-kata ‘pulsa’, sekali-dua ia juga sambil tertawa tipis dengan melempar pertanyaan

        “Mau beli apa? Kalau gomong yang jelas!.”

        Pria itupun terus berupaya menegaskan dan menjelaskan, bahkan nada bicaranya naik .

        “Pulsa loh pulsa!!” katanya keras, sambil mengulang-ulang yang tidak ku hitung berapa kali pengulangannya.

        Tidak hanya satu huruf, tapi setiap kata memang terdengar tidak seperti biasa kita berbicara. tapi aku merasa kata-katanya lebih dari cukup untuk dimengerti telinga.

        Yang jelas disini aku benar-benar melihat, bahwa si bapak telah mengerti apa maksudnya, namun terus saja memberikan candaan yang aku tidak tahu apakah itu melukai hati si pria.

        Aku hanya diam, tidak mencampuri dialog pasif itu, tapi yang ku herankan, ibu-ibu yang juga menjadi pelanggan di kedai itu turut ikut menanyakan kejelasan kata-kata yang diucapkan sang pria. Dengan tertawa bahkan dengan ejekan.

        Akhirnya pria itu diam, tidak lagi melontarkan nada keras menegaskan kata-katanya. Lantai yang didesain seperti tangga, menjadi pilihannya untuk duduk dan menunggu giliran pelayanan. Sejenak saja,  mungkin terasa begitu lama untuk nya,

        Malam itu kedai sampah ini menjadi saksi perundungan dia yang susah dalam berbicara.


Sumber gambar: Fastpay.co.id

        Sepertinya mereka memang sudah terbiasa, kulihat ibu-ibu dan bapak pemilik warung begitu akrab berbicara. Begitupula dengan sang pria, mungkin saja ini bukan menjadi hal yang baru baginya, baik di kedai ini atau dimanapun. Aku saja yang memang sesekali kemari.

***

        Sontak aku teringat masa kecil dulu, bahkan juga sekarang. Ada temanku yang susah menyebutkan kata yang ada huruf “R” nya, orang banyak meledeknya dengan sebutan cadel. Ada juga yang gemuk badannya, banyak yang berkata dia seperti drum air (gentong), truk, dan benda-benda besar lainnya, ada pula yang mempunyai dua kuku ibu jari  tangan.

        Tak diingkari, mungkin aku juga sering melakukannya, ejek-ejekan itu yang kita anggap lelucon tapi menjadi sebuah pisau tajam menyayat hati penerimanya. Okelah, mungkin usia anak-anak banyak yang mewajarkan hal ini, namun bukan berarti tidak memberikan edukasi.

        Semakin berumur seharusnya kita semakin pandai memilah dan memilih, apa yang harus kita katakan dan lakukan. Malam ini benar-benar memberikanku banyak pelajaran.

        Aku teringat, ibuku pernah berkata, mereka-mereka yang begitu sebenarnya mungkin juga tak ingin, mereka juga ingin lancar berbicara, punya fisik yang baik, bahkan hidup berkecupan. Tapi begitulah yang diberikan Tuhan, sang maha adil dan tidak mungkin disalahkan.

        Kita tidak pernah tahu, sampai dimana kata-kata yang kita lontarkan berlabuh di hati mereka yang kita anggap memiliki kekurangan. Bisa saja malamnya tidak pernah lelap karena ratapan dan kesedihan dari kita yang sering menganggapnya sebuah lelulucon.

        Atau justru kitalah yang seharusnya merasa kekurangan dan berpikir lebih luas. Bisa saja ibadah mereka jauh lebih sempurna, sepertiga malamnya tak lewat dari sujud yang lama. Bibirnya senantiasa tergerak melantunkan firman-Nya. Dan hidupnya jauh lebih berkah dari pada kita yang merasa sempurna.

     ***

        Belanjaanku selesai, aku beranjak pulang dengan pikiran yang belum usai.

_______

Maaf,

ditulis dengan penuh refleksi dan penyadaran, semoga kita senantiasa saling mengingatkan dalam kebaikan.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar dari Tumbuhan

Pagi ini aku melihat keluar jendela sekretariat ormawa yang sudah aku geluti berkisar satu setengah tahun lamanya. Masih pagi, tapi manusia sudah hingar-bingar melakukan aktivitasnya, berbagai jenis kendaraan melintas dengan kecepatan tinggi di jalan, jalan tol itu tidak pernah sepi. Selalu saja berisik, sekali-dua pernah terjadi kecelakaan disitu. Sudah, bukan itu yang ingin aku ceritakan Mataku terfokus pada tumbuh-tumbuhan, ada ilalang, pohon jati, mahoni, kelapa dan cemara, adapula tanaman kacang panjang, cabai merah dan rerumputan liar yang daunnya seperti daun maple. Aku jadi teringat Canada, salah satu tempat di Benua Amerika yang ingin aku kunjungi kalau Tuhan mengizinkan. Aamiin Lalu aku berpikir, apa yang bisa aku pelajari dari tumbuh-tumbuhan ini? Kemudian aku teringat kala dulu ada pohon sawo di samping rumah nenek, ku tebangi sebagian rantingnya, sehingga sebagian sisinya tidak terlihat rimbun lagi. Beberapa minggu kemudian aku kembali, dan ternyata kulihat ada tunas...

Menolong Orang Tak Dikenal

        Kemarin, sabtu malam diminggu kedua bulan oktober. Seperti biasa, rutinitas menyambangi pengajian disebuah masjid komplek yang kira-kira jaraknya tempuhnya memakan waktu 15-20 menit. Aku dan bang Ibrahim, sebentar. Bang Ibrahim adalah temanku satu ormawa, mungkin dia akan lebih sering menjadi tokoh dalam cerita-cerita ku, satu lagi ada mas ku, mas Fathoni namanya, dia adalah orang yang selalu aku datangi  kalau senang, susah atau apalah, dia seperti abangku di ormawa ini. Intinya mereka berdualah yang paling sering bersamaku, selebihnya ada teman-teman seangkatan ku, Mahmudi, Iin, Alfi, Agung dan yang lainnya serta beberapa orang perempuan.         Malam itu rasanya hati dan kepala ku masih tidak sinkron,  dipikiran ku berseliweran nama-nama peserta Pena Persma 2019 (acara terbesar di ormawa ku). Aku senang bertemu mereka, rasanya ingin kusambangi mereka semua ke daerahnya masing-masing. Ah sudahla, semoga T...

Potensi Harus Diolah, Niat Harus Dilakukan untuk Indonesia Berkemajuan

Tujuh puluh tiga tahun lalu digaungkan proklamasi kemerdekaan Indonesia oleh presiden soekarno. Selama tujuh puluh tiga tahun jugalah Indonesia telah terbebas dari belenggu kependudukan belanda dan jepang. Kini indonesia berada ditangan anak-anak bangsanya, diusianya yang sekarang negara Indonesia masih menyandang sebagai negara berkembang.  Ada banyak negara yang seusia dengan Indonesia, namun kemajuannya lebih pesat, korea misalnya dari segi teknologi dan entertaiment mereka lebih unggul bahkan anak-anak muda indonesia banyak yang menyukai produk-prosuk yang korea hasilkan. Lalu apakah yang harus Indonesia lakukan untuk bisa sejajar dengan negara-negara maju di dunia? Sebuah kalimat motivasi mengatakan ‘kalau kita ingin maju, maka harus ada niat dan usaha yang harus kita lakukan’ begitupun dengan pepatah agama yang mengatakan bahwa ‘semua yang dilakukan itu tergantung kepada niatnya’, apakah kita sudah memiliki niat untuk maju? Jika sudah lalu apa yang harus kita lak...