Langsung ke konten utama

Proposal Skripsi Kelar dalam Waktu Satu Minggu? Apa Bisa?

Raut bahagia akhirnya proposal diterima


   Ini ceritaku sewaktu ngerjain skripsi, memang perihal ini kadang gak bisa main-main, ya. Ada yang stres, depresi, bahkan bunuh diri. Haduh, alhamdulilah, aku bersyukur tidak sampai stres apalagi depresi. 

***

  Di sudut ruang kos ku yang kecil, ditemani laptop, meja kecil, dan kursi pelastik berwarna biru. Di situlah selama sepekan aku berkutat mengerjakannya. Kalian tahu? Begini caraku mengerjakan proposal Bab I s.d. Bab III;

 Aku mulai pengerjaan pukul 08.00 pagi, kadang sambil sarapan, kadang lebih dulu sarapan. Lalu, berhenti di pukul 12.00, kemudian istirahat, salat, dan makan siang sampai pukul 14.00. 

   Lalu, lanjut lagi sampai pukul 16.00, setelah itu berhenti untuk salat asar dan istirahat lagi. Nah, sore hari gini aku keluar kamar, duduk di depan kos sambil menikmati indahnya pekarangan. Di depan kos ku itu ada pohon jambu biji merah, jadi sekalian duduk, aku juga makan jambu. Sesekali olahraga kecil, gerak-gerakkan jari aja, haha. 


Jambu biji merah punya Eyang

   Kadang di waktu ini aku gak ngapa-ngapain, nih, paling baca buku selembar, main ponsel, dan tiduran. Sehabis salat isya lanjut lagi, dong, sampe pukul 22.00. Em, kalau lagi asik banget bisa begadang, tuh, ngerjainnya. Hehe.

     Waktunya emang pas gitu, ya, menitnya?

Em, sebenarnya bisa lewat atau kurang dikit aja, saat ngerjakan skripsi, aku selalu lihat waktu, ya. 

  Aku, tuh, gini modelnya kalau lihat jam "Pokoknya pukul 14.00 harus berhenti, apa pun ceritanya" jadi kalau emang udah masuk waktu yang aku tentukan sendiri, aku akan berhenti. Kecuali malam, kadang begadang karena merasa "Dikit lagi ini" tapi kalau siang gak bisa, harus berhenti sesuai waktu. Haha.

    Begitu seterusnya sampai satu pekan lamanya. Laptop ku itu gak pernah kututup, kubiarkan aja terbuka, kadang gak dimatikan, sekadar tidur aja dia. 

   Eitss, sebelum pertempuran ini di mulai, aku udah banyak banget unduh jurnal, buku, dan skripsi yang bisa aku jadikan referensi. Untuk stok makanan aku udah beli di supermarket Majubersamamu, cukuplah untuk satu minggu.

  Ntahlah, aku memang sudah menanamkan target bahwa harus selesai kuliah sebelum umur 22 Tahun, dan alhamdulilah di bulan terakhir menginjak umur 21 tahun, aku sidang skripsi, dan lulus dengan predikat terpuji, sihiy. Maaf, ini hanya sekilas, karena kita masih cerita proposal.

   Sebenarnya aku udah cukup telat ngerjakan skripsi ini, aku baru mulai di Agustus 2021 dan itu udah akhir semester 8. Biasalah, anak organisasi pikirku, tiga tahun di pers mahasiswa dari November 2017 sampai Maret 2021, lanjut lagi Duta Bahasa sampai sekarang.

  Satu hal, karena Ibu ku sudah bilang "Ini pembayaran UKT terakhir, ya" jadi aku gak mungkin khianati harapannya. Aku harus usahakan bisa selesai, walau pun kalau dipikir jadi mahasiswa itu memang asik, banyak pengalaman, kesana dan kemari, dll.

   Terkesan memaksakan diri, ya? Enggak, sih, sebenarnya, karena satu pekan ini emang sengaja aku kosongin waktu untuk gak kemana-mana dan fokus skrispi aja, sebenarnya ada satu hari di satu pekan itu aku pergi bentar ke kantor Balai Bahasa, siang hari, tapi malemnya, ya, tetap lanjut. 

   Kalau gak kaya gini ada aja yang membuat lupa dengan skripsi, haha. Ntah itu kawan ngajak jalan-jalan, nongkrong, organisasi, dan lainnya. 

  Akhirnya proposalku selesai, kira-kira ada enam puluh halaman. Semuanya udah aku susun sesuai dengan bimbingan outline bersama PS I. Jadi, sebelum ngerjakan, kerangka skripsiku ini udah lewat bimbingan dulu, biar mudah selanjutnya.

  Pekan depannya aku coba hubungi dosen untuk bimbingan, sempat bimbingan sebentar aja, setelah itu dosennya sibuk. Jadi, posisinya aku belum ngerti apa yang mau direvisi, karena memang sekadar aja gitu. 

  Pekan depannya lagi, aku hubungi lagi dosennya. Sekadar informasi, kalau di UIN itu pembimbing skripsi (PS) ada dua, ya. Nah, aku gak bisa bimbingan sekali dua, karena PS I-nya, mau bimbingan setelah bimbingan sama PS II selesai. Yaudah, berarti aku fokus ke PS II aja dulu, kan?

  Kembali lagi aku hubungi PS II dan mengejutkan sekali kabarnya. Ternyata Ibunya sedang dinas di luar kota, waktunya cukup lama dan gabisa bimbingan. Karena aku gak mau gak ngapa-ngapain atau gak ada kerjaan. Akhirnya aku memutuskan untuk mendaftar pelatihan jurnalistik lingkungan. Yaallah, lulus. Dan aku pergi ke luar kota selama satu pekan untuk pelatihan, gilakkk, ini seru banget, kita itu kemah dan ada arung jeramnya juga. Gak terlupakan pengalamanya.

  Aku ketemu orang-orang baru di sana, pesertanya dari Aceh dan Sumut, ya, walau pun beberapa adalah orang yang udah pernah aku jumpai, kawan dari kawan, dsb. Asik, deh, di sini aku benar-benar paham gimana alam itu bekerja dan mengapa ia berubah. Fiks, kadang manusia emang serakah banget. 

        Maaf, kok, bahas ini. Nanti aja kali, ya.

    Oke, balik lagi ke proposal. Nah, setelah selesai pelatihan, aku gak langsung bimbingan, masih menyibukkan diri di tempat lain. Gausah aku bilang, takutnya kepanjangan nanti. Setelah PS II ku kembali dari luar kota, aku langsung hubungi, dan kami bimbingan.

Sat-set-sat-set

     Revisiannya langsung aku kerjakan, aku catat serapi mungkin, dan ketika aku kembalikan lagi proposalnya ke PS II, aku kirim daftar revisiannya dan aku bilang "Semuanya sudah saya revisi, Bu, mohon periksa kembali, ya, Bu"

     Okeh, Gaes. Akhirnya PS II udah acc, jadi aku langsung hubungi PS I untuk bimbingan. Jadi, setiap bimbingan itu aku selalu doakan PSku sehat dan lancar aktivitasnya, di akhir bimbingan jangan lupa bilang terima kasih, sebagai tanda kita telah dibantu. Harapannya, sih, biar hatinya luluh dan kita terkesan anak yang baik, hehe.

    Nah, ketika bimbingan sama PS I, aduh apes banget. Ibu itu mengira kalau aku akan sidang skripsi, sampai dibilang "Skripsi kamu terlalu sedikit, minimal 60 halaman di luar daftar pustaka, daftar isi, kover, dll" padahal udah beberapa kali bimbingannya, em. 

     Akhirnya di malam itu, aku jelaskan. Bu, saya ini masih proposal dan saya belum seminar, inilah menunggu acc dari Ibu, baru saya seminar.

   Doorrr, Ibunya langsung vn dan bilang lagi ngantuk, ekeke. Wajar, sih, karena pejabat Fakultas dan chatku juga selalu di balas malam hari, karena memang Ibu itu siang hari sibuk di kampus.

     Malam itu juga akhirnya aku di acc sama PS I, jadi dua PS sudah acc, tinggal nyusun berkas seminar proposal, udah aku siapin sejak lama, sih. Jadi, tinggal daftar aja. Kira-kira sebulan gitu lamanya untuk nunggu jadwal seminar, karena harus ikut antrean.

   Alhamdulillah, aku lulus seminar dan bisa lanjut ke BAB IV dan BAB V, dan revisi di seminar juga gak terlalu banyak.

    Jadi, kira-kira proposal dan bimbingan sampai ke seminar, makan waktu dua bulanan. 

     Untuk kalian yang lagi skripsian semangat, ya, harus giat dan emang harus semangat. Kurang-kurangi bilang gak sempat, takutnya nanti malah kita jauh kelewat. Hehe. Tapi terserah, sih, kita gak tahu, ya, orang itu kenapa. Intinya, jangan bilang semua orang punya waktunya masing-masing, kalau kamunya cuma males-malesan aja, sama aja.


Nanti lanjut lagi cerita di Bab IV dan Vnya, ya, sampai ketemu~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dia Juga Tak Ingin Begitu

  POV: Laut Dendang, Selasa, 16 Februari 2021 sumber gambar: hipwee           Selasa malam selepas ibadah maghrib, ku langkahkan kaki menuju kedai sampah di depan gang, tak sampai lelah kaki dan tak sampai bercucur keringat. Aku tiba disambut dengan seorang bapak yang langsung mengubah air mukanya dan menaikkan alis, menandakan isyarat “Mau beli apa?”.           Aku terdiam sejenak, mataku liar memandangi sembako, jajanan semasa kecil yang berbaris rapi tergantung, dan kulkas mini yang ku tahu menyimpan berbagai macam rasa minuman. Ntahlah sudah menjadi kebiasaan ku, ketika ingin membeli sesuatu di warung se-per-sekian detik harus lupa apa yang harus ku tukarkan. ***           Aku mengambil deterjen, minyak goreng kemasan dengan sendirinya, biasanya juga begitu, apa yang bisa diambil sendiri oleh pembeli, pemilik warung tidak akan pernah marah, justru membantu lelahnya berkurang. Ta...

Semua Orang Punya Waktunya Masing-Masing (?)

  Ternyata orang-orang di sekitar kita itu memang suka bertanya-tanya tentang kita, ya. Ada yang sekadar tanya, ada pula yang ingin membandingkan dengan dirinya , dan ada lagi yang pengin   ngasih solusi atas apa yang ditanyakannya. Paling ribet kalau kita ketemu orang yang kedua, ngebandingin dirinya dengan kita. Ntah dia merasa lebih baik dari kita atau kitanya yang dirasa dia lebih baik. Eittss, kita juga harus ingat, gak semua hal bisa kita tanyakan . Kecuali, kedekatan emosianal kita dengan orang itu udah benar-benar erat. Hehe. Tetapi lebih baik gak usah ditanya, kalau misalnya ragu, kadang kita masih suka latah. Makin kesini rasanya makin kesana, haha. Maksudnya, makin dewasa kita emang dituntut untuk menyusun peta sendiri, mau ke mana dan dari mana . Beruntunglah mereka yang meski pun berangkat dari kesulitan, tetapi punya dada yang lapang. *** Kalian pernah dengar gak, sih, kalimat-kalimat bijak yang mengatakan “Semua orang punya waktu mekarnya masing-masing...