Langsung ke konten utama

Semua Orang Punya Waktunya Masing-Masing (?)

 



Ternyata orang-orang di sekitar kita itu memang suka bertanya-tanya tentang kita, ya. Ada yang sekadar tanya, ada pula yang ingin membandingkan dengan dirinya, dan ada lagi yang pengin  ngasih solusi atas apa yang ditanyakannya.

Paling ribet kalau kita ketemu orang yang kedua, ngebandingin dirinya dengan kita. Ntah dia merasa lebih baik dari kita atau kitanya yang dirasa dia lebih baik.

Eittss, kita juga harus ingat, gak semua hal bisa kita tanyakan. Kecuali, kedekatan emosianal kita dengan orang itu udah benar-benar erat. Hehe. Tetapi lebih baik gak usah ditanya, kalau misalnya ragu, kadang kita masih suka latah.

Makin kesini rasanya makin kesana, haha. Maksudnya, makin dewasa kita emang dituntut untuk menyusun peta sendiri, mau ke mana dan dari mana. Beruntunglah mereka yang meski pun berangkat dari kesulitan, tetapi punya dada yang lapang.

***

Kalian pernah dengar gak, sih, kalimat-kalimat bijak yang mengatakan “Semua orang punya waktu mekarnya masing-masing” atau kalimat lainnya yang maknanya sama.

Pasti kita udah sering banget dengarnya, gak ada masalah dengan kalimat itu. Karena, memang benar, kita tidak lewat jalan yang sama, tidak hadir dari latar belakang yang sama, dan bahkan kita punya tujuan yang tak sama juga.

Hampir semuanya berbeda, kalau pun ada kesamaan, itu hanya akan jadi kenangan di umur kita yang sekarang. Maksudnya, kita pernah melakukan hal secara bersama, merencanakan sesuatu, dan punya angan-angan. Namun, pada akhirnya kita kembali pada jalur sendiri dan menyusuri makna perpisahan.

Baik, kita kembali pada kalimat yang tadi. Banyak sekali dari kita yang berlindung di balik kalimat itu. “Semua orang punya waktunya masing-masing”. Tetapi kitanya malah tidak melakukan apa-apa, masih suka menunda pekerjaan, tidak mau mengeksplor kemampuan diri, masih suka main-main, dan parahnya lagi mau enaknya aja. Sama aja, kan?

Aku pikir maksud dari “Punya waktu masing-masing” itu, kita yang menjemput waktunya, kita yang akan jadi penentu kapan waktu itu datang, kalau hanya sekadar nunggu dan gak melakukan apa-apa, ya, sama aja mengharap hujan turun dari langit, tapi air di wadah kita tumpahkan.

Contoh kecilnya gini, aku kemarin berdoa kepada Tuhan untuk bisa menyelesaikan kuliah di umur 21 tahun. Aku pikir, Tuhan tidak akan mengabulkan itu, kalau aku tidak mau berusaha giat mengerjakan skripsi, meski rentang pengerjaan cukup lama. Tetapi aku sudah punya waktu yang akan aku jemput, yaitu jangan lewat dari umur 21 tahun.

Oke, dengan segala macam kegiatan yang udah aku lakukan, akhirnya aku memutuskan untuk memulai pengerjaan skripsi. Aku berpikir bahwa, untuk apa aku berdoa yang demikian, kalau aku tidak mengusahakan? Cuma mau bilang “semua orang punya waktunya masing-masing”? gak, kan? Kita bisa mengatakan itu, kalau memang kita mau seperti orang. Maksudnya, bukan menjiplak orang lain, tapi juga mau berusaha seperti kerasnya usaha orang lain, dengan cara kita sendiri.

Akhirnya di bulan terakhir aku menginjak umur 21 tahun, aku bisa sidang skripsi, dan aku bisa bilang. “Aku udah berhasil menjemput waktu yang sudah aku targetkan dan kukuatkan dengan doa kepada Tuhan”

Jadi, kita yang memang harus membuat kapan keingingan kita, cita-cita kita, dan mimpi kita jadi nyata, dengan usaha. Bukan dengan berlindung dibalik kata-kata bijak, tapi tidak melakukan apa-apa. Haduh, aku memang belum jadi apa-apa, kadang merasa keras sama diri sendiri, kadang pula merasa tidak mengerti.

Gaes, ini prinsipku, ini pendapatku, dan inilah caraku mendidik diriku sendiri. Karena, diri kita ini tanggung jawab kita sendiri, bukan orang lain. Aku gak maksa orang lain untuk setuju tentang apa pun pendapatku, tetapi kalau mau saran silakan.

Ini masih permulaan, nanti aku lanjutkan cerita campuran ini. Haha.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Proposal Skripsi Kelar dalam Waktu Satu Minggu? Apa Bisa?

Raut bahagia akhirnya proposal diterima    Ini ceritaku sewaktu ngerjain skripsi, memang perihal ini kadang gak bisa main-main, ya. Ada yang stres, depresi, bahkan bunuh diri. Haduh, alhamdulilah, aku bersyukur tidak sampai stres apalagi depresi.  ***   Di sudut ruang kos ku yang kecil, ditemani laptop, meja kecil, dan kursi pelastik berwarna biru. Di situlah selama sepekan aku berkutat mengerjakannya. Kalian tahu? Begini caraku mengerjakan proposal Bab I s.d. Bab III;  Aku mulai pengerjaan pukul 08.00 pagi, kadang sambil sarapan, kadang lebih dulu sarapan. Lalu, berhenti di pukul 12.00, kemudian istirahat, salat, dan makan siang sampai pukul 14.00.     Lalu, lanjut lagi sampai pukul 16.00, setelah itu berhenti untuk salat asar dan istirahat lagi. Nah, sore hari gini aku keluar kamar, duduk di depan kos sambil menikmati indahnya pekarangan. Di depan kos ku itu ada pohon jambu biji merah, jadi sekalian duduk, aku juga makan jambu. Sesekali olahraga...

Dia Juga Tak Ingin Begitu

  POV: Laut Dendang, Selasa, 16 Februari 2021 sumber gambar: hipwee           Selasa malam selepas ibadah maghrib, ku langkahkan kaki menuju kedai sampah di depan gang, tak sampai lelah kaki dan tak sampai bercucur keringat. Aku tiba disambut dengan seorang bapak yang langsung mengubah air mukanya dan menaikkan alis, menandakan isyarat “Mau beli apa?”.           Aku terdiam sejenak, mataku liar memandangi sembako, jajanan semasa kecil yang berbaris rapi tergantung, dan kulkas mini yang ku tahu menyimpan berbagai macam rasa minuman. Ntahlah sudah menjadi kebiasaan ku, ketika ingin membeli sesuatu di warung se-per-sekian detik harus lupa apa yang harus ku tukarkan. ***           Aku mengambil deterjen, minyak goreng kemasan dengan sendirinya, biasanya juga begitu, apa yang bisa diambil sendiri oleh pembeli, pemilik warung tidak akan pernah marah, justru membantu lelahnya berkurang. Ta...