Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2019

Dua Tipe Pembuang Sampah

   Sampah adalah isu yang tak henti-hentinya menjadi pembahasan di negara ini, atau negara maju sekalipun. Bahkan gara-gara sampah ada gubernur yang saling melempar sindiran satu sama lain. Artinya, sampah menjadi persoalan yang sangat serius untuk dibahas.        Data yang pernah dipublikasikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memyebutkan, rata-rata sampah yang dihasilkan oleh masyarakat Indonesia berkisar 175.000 ton perhari, sehingga jika diakumulasikan pertahunnya ada sebanyak 64 juta ton sampah. Berdasarkan data ini perorangnya penduduk Indonesia menghasilkan 0,7 Kg perharinya. Sehingga secara sadar seharusnya masing-masing individu mempunyai tanggung jawab besar terhadap permasalahan sampah.         Berangkat dari data di atas, ada dua kemungkinan respon yang akan muncul dari masyarakat. Pertama, mereka yang hanya berdecak 'Kagum' mendengar data tersebut dan tidak melakukan apa-apa selain menambah...

Belajar dari Tumbuhan

Pagi ini aku melihat keluar jendela sekretariat ormawa yang sudah aku geluti berkisar satu setengah tahun lamanya. Masih pagi, tapi manusia sudah hingar-bingar melakukan aktivitasnya, berbagai jenis kendaraan melintas dengan kecepatan tinggi di jalan, jalan tol itu tidak pernah sepi. Selalu saja berisik, sekali-dua pernah terjadi kecelakaan disitu. Sudah, bukan itu yang ingin aku ceritakan Mataku terfokus pada tumbuh-tumbuhan, ada ilalang, pohon jati, mahoni, kelapa dan cemara, adapula tanaman kacang panjang, cabai merah dan rerumputan liar yang daunnya seperti daun maple. Aku jadi teringat Canada, salah satu tempat di Benua Amerika yang ingin aku kunjungi kalau Tuhan mengizinkan. Aamiin Lalu aku berpikir, apa yang bisa aku pelajari dari tumbuh-tumbuhan ini? Kemudian aku teringat kala dulu ada pohon sawo di samping rumah nenek, ku tebangi sebagian rantingnya, sehingga sebagian sisinya tidak terlihat rimbun lagi. Beberapa minggu kemudian aku kembali, dan ternyata kulihat ada tunas...

Idealisme kita akan sampai di mana?

         Saat menjadi 'Mahasiswa' rasanya 'Idealis' itu benar-benar sampai pada puncaknya. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Idealisme adalah aliran ilmu filsafat yang menganggap pikiran atau cita-cita sebagai satu-satunya hal yang benar yang dapat dicamkan dan dipahami. Artinya mahasiswa yang memiliki faham idealisme itu mempunyai pikiran yang menurutnya sendiri adalah benar dan sesuai dengan kekayaan intelektual yang melekat dalam diri.          Sebagai agen perubahan, mahasiswa diyakini mampu memberikan dampak yang baik dalam keberlangsungan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Bagaimana tidak? Dengan kekuatan dan rasa yang sama mahasiswa mampu menjadi pelopor berhentinya orde baru dan beralih ke masa reformasi.          Sebentar, sudah terlalu jauh rasanya. Ada hal yang tidak kalah  penting untuk kita diskusikan. Coba kita mereview sejenak, kita selalu berbicara hal yang besar...

Cerita Jokowi dari Pak Ojol

Ntah kenapa , hari ini aku ingin pulang lebih awal dari kampus, tidak seperti biasanya hingga malam hari baru pulang. Hari ini adalah senin, aku bukan seperti kebanyakan orang diluar sana yang mengutuk hari Senin. Menurutku semua hari sama saja, kalau ada kerjaan atau aktivitas ya dilaksanain, kalau ndak ada ya dicari aktivitas yang mau dilakuin, atau istirahat. Tubuhkan juga butuh istirahat, jangan sampai raga ini kehilangan hak nya. Sudah lupakan. Sudah semester V, tapi sepertinya kuliah belum begitu 'Kerasa'. Apalagi hari ini cuma belajar satu mata kuliah, yang pembahasannya dari semester I sampai V itu-itu saja, yaitu 'apa perbedaan bank konvensional dan bank syariah' dan mungkin sampai sekarang aku dan yang lain hanya faham teorinya saja, karena belum merasakannya sebagai praktisi. Persetan si aku kalau ditanya masalah  tugas, kalau ada ya dikerjai. Gak harus riweuh banget mikirinya. Pukul setengah tiga kurang (jam segitulah, pokoknya siang menjelang sore). ...

Menolong Orang Tak Dikenal

        Kemarin, sabtu malam diminggu kedua bulan oktober. Seperti biasa, rutinitas menyambangi pengajian disebuah masjid komplek yang kira-kira jaraknya tempuhnya memakan waktu 15-20 menit. Aku dan bang Ibrahim, sebentar. Bang Ibrahim adalah temanku satu ormawa, mungkin dia akan lebih sering menjadi tokoh dalam cerita-cerita ku, satu lagi ada mas ku, mas Fathoni namanya, dia adalah orang yang selalu aku datangi  kalau senang, susah atau apalah, dia seperti abangku di ormawa ini. Intinya mereka berdualah yang paling sering bersamaku, selebihnya ada teman-teman seangkatan ku, Mahmudi, Iin, Alfi, Agung dan yang lainnya serta beberapa orang perempuan.         Malam itu rasanya hati dan kepala ku masih tidak sinkron,  dipikiran ku berseliweran nama-nama peserta Pena Persma 2019 (acara terbesar di ormawa ku). Aku senang bertemu mereka, rasanya ingin kusambangi mereka semua ke daerahnya masing-masing. Ah sudahla, semoga T...

Aku dan Cerita Telapak Kaki

Wahyu Nizam,  aku mahasiswa aktif UIN SU jurusan perbankan syariah. Lahir dan besar  disebuah desa kecil bernama Pematang Kuing di Kabupaten Batubara. Aku tidak terlalu ingin menceritakan banyak hal tentang diriku. Meskipun banyak orang lain yang mempercayai hal pribadinya padaku. Aku punya janji sama diri sendiri, nanti kalau sudah sukses baru aku cerita perjalanan ku yang lebih detail. Hari ini aku berjanji untuk aktif menulis di blog ini, sepertinya kemarin aku baru mendapat motivasi, dari satu arah. Meskipun bekal nulisku hanyalah pengalaman 'Telapak Kaki' yang didukung handphone kesayanganku, tapi aku harus yakin bisa mengisi blog ini dari cerita 'Telapak Kaki' ku, kemana dia melangkah, disitu akan kubuat cerita. Ah aku harus melupakan laptop ku yang telah diambil tangan jail. Aku suka dengan alam, hijaunya seakan meredakan masalah yang muncul dari mataku. Selain itu aku suka menggambar, menurutku ada kenikmatan tersendiri ketika aku membuat sebuah gam...