Langsung ke konten utama

Idealisme kita akan sampai di mana?

         Saat menjadi 'Mahasiswa' rasanya 'Idealis' itu benar-benar sampai pada puncaknya. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Idealisme adalah aliran ilmu filsafat yang menganggap pikiran atau cita-cita sebagai satu-satunya hal yang benar yang dapat dicamkan dan dipahami. Artinya mahasiswa yang memiliki faham idealisme itu mempunyai pikiran yang menurutnya sendiri adalah benar dan sesuai dengan kekayaan intelektual yang melekat dalam diri.
         Sebagai agen perubahan, mahasiswa diyakini mampu memberikan dampak yang baik dalam keberlangsungan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Bagaimana tidak? Dengan kekuatan dan rasa yang sama mahasiswa mampu menjadi pelopor berhentinya orde baru dan beralih ke masa reformasi.
         Sebentar, sudah terlalu jauh rasanya. Ada hal yang tidak kalah  penting untuk kita diskusikan. Coba kita mereview sejenak, kita selalu berbicara hal yang besar, ingin memajukan negara ini, membela negara dari pihak asing. Mengkritik kebijakan-kebijakan pemerintah yang kita anggap menyalahi aturan berdemokrasi. Memang tidak ada salahnya, namun, sudahkah kita memperhatikan hal-hal kecil disekitar kita?
        Misalnya, terkadang kita masih belum bisa mematuhi aturan yang ada dikampus, masih suka berpakaian tidak sepantasnya, merokok ditempat yang dilarang, suka datang terlambat, masih suka kesenangan-kesenangan yang sesungguhnya tidak mendatangkan manfaat, bahkan buang sampahpun terkadang kita masih harus diajarkan. Shalat lima waktu yang menjadi kewajiban kita masih suka lalai. Aturan Tuhan saja berani kita melanggarnya, apalagi aturan manusia yang hanya makhluk kecil dimata Tuhan?
       Coba lihat kita sekarang, sangat Idealis, begitu intelektual dalam melihat masalah yang besar. Kita benci perilaku petinggi-petinggi negara yang tak memperhatikan kebutuhan rakyatnya, kita mengutuk mereka yang korupsi, kita mengecam mereka yang membungkam demokrasi. Rasanya kita ingin menggantikan posisi mereka dan mebawa perubahan yang signifikan untuk perbaikan negeri ini. Lalu pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri, 'Sampai dimanakah idealis ini bertahan?'

       Kita ambil contoh mengenai KORUPSI, masih ingatkah kita dengan Gayus Tambunan dengan kasus pajaknya? Rekam jejaknya begitu menakjubkan, siswa berpretasi dan lulusan dari sekolah ikatan dinas dari kementrian. Lalu bapak Setya Novanto dengan kasus E-KTP nya, pernah mengenyam pendidikan di kampus terkenal. Kemudian bapak Suryadharma Ali dengan kasus penyelenggaraan ibadah haji, kurang apa gelarnya dulu sebagai menteri agama? Bukankah tokoh-tokoh yang menjadi pejabat negeri ini kemudian mereka menyimpang pernah menjadi seperti kita? Seorang mahasiswa? Tentu saja jawabanya 'Iya'.
        Bukankah mereka dulunya juga sama seperti kita? Berpikiran idealis, membenci pejabat yang tidak 'becus' melaksanakan tugas, mementingkan kepentingan pribadi dan keluarganya? Tentu saja mereka sama seperti kita, tidak mungkin mereka dulunya sudah mengancang-ancang ingin bercita-cita sebagai koruptor! Lalu kenapa mereka menghentikan pikiran idealisnya? Intelektualnya? Sebegitu menggodanya kah 'amanah' dengan sumpah itu?
         Tidak cukupkah gaji mereka untuk kehidupannya? Kurang terpandangkah mereka dengan jabatannya? Kenapa masih harus mengambil sesuatu yang bukan haknya? Tidak takutkah mereka pada Tuhannya? Apa hukuman yang pantas untuk mereka? Hukuman mati kah? Kenapa tidak? Bukankah lebih baik hilang satu nyawa dari pada satu nyawa tersebut menghilangnya banyak nyawa secara perlahan?
        Teringat kala itu, ada seorang mahasiswa bertanya pada dosennya mengenai korupsi yang tak kunjung henti. Kemudian ia menjawab "Jika kita ingin menyapu lantai, jangan pakai sapu yang kotor, itu sama saja tidak merubah apa apa, tapi pakaialah sapu yang baru" kemudian dosen tersebut berkata lagi "Negara kita ini masih dipegang sama orang-orang yang dulunya 'begitu' (sapu kotor) mereka itu menurunkan perilaku-perilaku yang seperti itu, jadi kalau mau kita bersih, kita harus mengganti semuanya dengan sapu yang baru"
        Tidakkah hati kita gaduh? Tidakkah kita khawatir idealis kita hanya sampai pada status mahasiswa saja? Seberapa jauh kita akan menjunjung tinggi integritas? Dan semua jawaban itu ada pada diri kita sendiri. Teruslah menjadi agen perubahan dan kontrol sosial, dan ingatlah megabdi sesuai profesi (mahasiswa) juga termasuk membela negara!.

Selasa, 22/10-2019
Nizam_wn



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar dari Tumbuhan

Pagi ini aku melihat keluar jendela sekretariat ormawa yang sudah aku geluti berkisar satu setengah tahun lamanya. Masih pagi, tapi manusia sudah hingar-bingar melakukan aktivitasnya, berbagai jenis kendaraan melintas dengan kecepatan tinggi di jalan, jalan tol itu tidak pernah sepi. Selalu saja berisik, sekali-dua pernah terjadi kecelakaan disitu. Sudah, bukan itu yang ingin aku ceritakan Mataku terfokus pada tumbuh-tumbuhan, ada ilalang, pohon jati, mahoni, kelapa dan cemara, adapula tanaman kacang panjang, cabai merah dan rerumputan liar yang daunnya seperti daun maple. Aku jadi teringat Canada, salah satu tempat di Benua Amerika yang ingin aku kunjungi kalau Tuhan mengizinkan. Aamiin Lalu aku berpikir, apa yang bisa aku pelajari dari tumbuh-tumbuhan ini? Kemudian aku teringat kala dulu ada pohon sawo di samping rumah nenek, ku tebangi sebagian rantingnya, sehingga sebagian sisinya tidak terlihat rimbun lagi. Beberapa minggu kemudian aku kembali, dan ternyata kulihat ada tunas...

Dia Juga Tak Ingin Begitu

  POV: Laut Dendang, Selasa, 16 Februari 2021 sumber gambar: hipwee           Selasa malam selepas ibadah maghrib, ku langkahkan kaki menuju kedai sampah di depan gang, tak sampai lelah kaki dan tak sampai bercucur keringat. Aku tiba disambut dengan seorang bapak yang langsung mengubah air mukanya dan menaikkan alis, menandakan isyarat “Mau beli apa?”.           Aku terdiam sejenak, mataku liar memandangi sembako, jajanan semasa kecil yang berbaris rapi tergantung, dan kulkas mini yang ku tahu menyimpan berbagai macam rasa minuman. Ntahlah sudah menjadi kebiasaan ku, ketika ingin membeli sesuatu di warung se-per-sekian detik harus lupa apa yang harus ku tukarkan. ***           Aku mengambil deterjen, minyak goreng kemasan dengan sendirinya, biasanya juga begitu, apa yang bisa diambil sendiri oleh pembeli, pemilik warung tidak akan pernah marah, justru membantu lelahnya berkurang. Ta...

Potensi Harus Diolah, Niat Harus Dilakukan untuk Indonesia Berkemajuan

Tujuh puluh tiga tahun lalu digaungkan proklamasi kemerdekaan Indonesia oleh presiden soekarno. Selama tujuh puluh tiga tahun jugalah Indonesia telah terbebas dari belenggu kependudukan belanda dan jepang. Kini indonesia berada ditangan anak-anak bangsanya, diusianya yang sekarang negara Indonesia masih menyandang sebagai negara berkembang.  Ada banyak negara yang seusia dengan Indonesia, namun kemajuannya lebih pesat, korea misalnya dari segi teknologi dan entertaiment mereka lebih unggul bahkan anak-anak muda indonesia banyak yang menyukai produk-prosuk yang korea hasilkan. Lalu apakah yang harus Indonesia lakukan untuk bisa sejajar dengan negara-negara maju di dunia? Sebuah kalimat motivasi mengatakan ‘kalau kita ingin maju, maka harus ada niat dan usaha yang harus kita lakukan’ begitupun dengan pepatah agama yang mengatakan bahwa ‘semua yang dilakukan itu tergantung kepada niatnya’, apakah kita sudah memiliki niat untuk maju? Jika sudah lalu apa yang harus kita lak...