Ntah kenapa, hari ini aku ingin pulang lebih awal dari kampus, tidak seperti biasanya hingga malam hari baru pulang. Hari ini adalah senin, aku bukan seperti kebanyakan orang diluar sana yang mengutuk hari Senin. Menurutku semua hari sama saja, kalau ada kerjaan atau aktivitas ya dilaksanain, kalau ndak ada ya dicari aktivitas yang mau dilakuin, atau istirahat. Tubuhkan juga butuh istirahat, jangan sampai raga ini kehilangan hak nya. Sudah lupakan.
Sudah semester V, tapi sepertinya kuliah belum begitu 'Kerasa'. Apalagi hari ini cuma belajar satu mata kuliah, yang pembahasannya dari semester I sampai V itu-itu saja, yaitu 'apa perbedaan bank konvensional dan bank syariah' dan mungkin sampai sekarang aku dan yang lain hanya faham teorinya saja, karena belum merasakannya sebagai praktisi. Persetan si aku kalau ditanya masalah tugas, kalau ada ya dikerjai. Gak harus riweuh banget mikirinya.
Pukul setengah tiga kurang (jam segitulah, pokoknya siang menjelang sore). Aku pesan ojek online dengan pembayaran melalui dompet digital. Ah, zaman sekarang teknologi semakin memanjakan manusia. Apa-apa jadi mudah, bikin manusia jadi pemalas saja. Loh! Ya iya, sekarang semua pekerjaan udah bisa dihandle pake handphone, sambil tiduran atau bahkan di toilet juga bisa pesan makan, mhehe.
Tapi, disamping itu yang perlu diingat adalah, gak semua manusia punya nasib yang sama, ada mungkin yang belum menyicipi teknologi, bisa jadi televisi yang kini kalah pamongnya sama youtube masih ada orang diluar sana yang masih 'heran' melihatnya. Bisa saja, tapi terkadang benar juga pendapat yang mengatakan manusia ini makhluk sosial yang individualis, hanya peduli sama hal yang menyangkut dirinya.
"P"
pesan masuk dari driver.
Wah huruf P ini udah merambah kesemua aplikasi, kini ucapan salam sudah diganti menjadi satu huruf saja, singkat dan praktis. Padahal, salam cuma satu kata, nggak banyak-banyak.
"Saya agak jauh pak, tunggu ya saya jalan kesana,"
Balasku pada drivernya. Lalu ia mengiyakan dan akan menunggu.
Kulihat depan kampus suasana hiruk pikuk berada pada puncaknya. Angkutan umum berhenti menaik-turunkan penumpang, pedagang kaki lima begitu sibuk melayani pembelinya. Dan langit terlihat kurang bersahabat, sebagian awan terlihat mendung, tapi surya panasnya masih begitu terasa.
"Wahyu?," tanya pengemudi ojek online (Ojol) yang kuhampiri.
Lalu aku mengiyakan, bapak yang terlihat sudah berumur itu menyodorkan helm kepada ku. Kami berangkat, menuju kos ku yang tidak terlalu jauh dari kampus, kira-kira sepuluh menit. Hoam, biasanya aku naik angkutan, kebetulan akhir-akhir ini lagi banyak promo di Ojol, jadi sayang gak dipakai. Terlepas dari itu adalah teknik marketing dari perusahaan.
Tidak ada percakapan diantara aku dan driver, mungkin karena ini siang. Biasanya kalau aku naik Ojol malam-malam yang dibahas gak lain dan gak bukan adalah begal, sampai aku faham sebelum pengemudinya bertanya aku sudah menjelaskan soal keadaan dimalam hari mengenai rute jalan menuju kosku. Huh, ada-ada saja, semoga yang sedang punya pekerjaan salah bisa segera dapat pekerjaan yang benar.
"Ini mau dibangun mall ya?,"
Tiba-tiba bapak itu membuka pembicaraan, lalu aku mengiyakan dan menjelaskan sedikit apa yang kuketahui soal pembangunan mall didekat kampus itu.
"Kayanya bentar lagi jalan ini ditutup sama orang ini," katanya, kami melintas bukan di jalan umum, melainkan jalan yang berada di tanah milik pihak yang punya proyek mall itu barangkali.
Obrolan kami hanyut, membahas pengunjung mall, jumlah penduduk disekitarannya. Sampai kepada apaapa saja yang akan ada di dalam mall tersebut. Bapak ini juga cerita kalau dulunya dia adalah pembecak, menjadi Ojol sudah dua tahun, katanya lebih enak tinggal nunggu pemesan.
Habis, aku ingin pembahasan lain dari bapak ini.
"Pak, pemilik ojol bapak ini mau jadi menteri," kataku meluaskan pembicaraan.
"Iya, tadi dipanggil Jokowi ke istana," ia menjelaskan panjang dan lebar. Bahkan menyebutkan nama-nama orang dipanggil presiden pagi ini
"Mahfud MD, Erick Tohir, Nadiem Makarim, Wisnuutama.. " lebih-lebih lagi ia menjawab. Aku ya heran, kukira bapak ini akan lebih banyak bertanya apa maksud kalimat awal yang kukatakan.
"Bapak baca berita dimana?," tanyaku. Ternyata aku ndak salah pilih obrolan ini.
"Ya disini," katanya menunjuk handphonenya yang masih terbuka aplikasi Ojol.
"Di aplikasi itu pak?" Tanyaku lagi, karena setahuku memang ada fitur berita di Ojol apps.
"Ya enggak, baca berita di HP, kalau lagi nunggu pesanan bapak baca berita,"-- jleb, jawaban bapak ini lumayan menohok. Ya malu aku sama bapak-bapak tapi semangat baca beritanya masih tinggi. Kadang, remaja seusiaku ya lebih asik selancaran di sosmed dan main game dari pada baca berita atau artikel-artikel lainnya. Apalagi soal pemerintah, mungkin sebagian acuh tak acuh.
Lalu aku kembali melempar pertanyaan.
"Kira-kira pak, gimana kinerja presiden kita selama lima tahun ini?"
Pertanyaanku langsung disamber
"Ya, ini yang paling bagus dari sebelum-sebelumnya,"
Lahhh, dugaanku salah. Kukira bapak ini bakal memunculkan argumen negatif, ternyata tidak.
Kemudian beliau menjelaskan bagus-bagusnya bapak Presiden, aku hanya mendengar tanpa menyanggah. Lalu aku bertanya kembali
"Kalau kita lihat sisi kurang baiknya pak, tentang korupsi, HAM dan yang lainnya gimana?"
"Jokowi itu bagus, dia dan keluarganya gak ada yang korupsi, kalau masalah-masalah HAM itukan peninggalan dari masa-masa sebelumnya," jawabnya langsung
"Ya, tapikan dia Presiden pak, dia tanggung jawabnya besar soal permasalahan itu," balasku lagi.
Kemudian bapak itu memanjangkan kalimatnya, menjelaskan fungsi KPK, jaksa, kepolisian dan yang intinya masih dalam pandangan baik Presiden menurutnya.
Wah posisinya rumah kos ku sudah mau dekat, perjalan terasa lebih lama karena obrolan ini. Terakhir yang dapat aku petik dari pernyataan bapak ini adalah begini
"Sebenarnya, Jokowi itu bagus, masalahnya cuma ada di orang-orang yang gasuka sama dia, kadang kita ini gada masalah, masalah kecil di besarkan-besarkan, makanya investor malah pindah kenegara lain karena keadaan politik kita kurang stabil, coba kalau investor banyak masuk, apa gak banyak lapangan pekerjaan yang terbuka,?"
Posisinya aku sudah turun dari Motor si bapak, tapi aku harus tetap mendengarkan ucapannya untuk penutup. Mungkin ia berharap aku menjawab lebih karena statusku Mahasiswa.
Tapi aku tidak menggubris pernyataan bapak tadi, rasanya literaturku harus ku tambahi dulu untuk bahas hal yang begitu jauh. Waktupun kurang memungkinkan. Apalagi dihadapkan sama orang lebih berpengalaman. Huh, semoga nanti aku bisa kembali dapat driver bapak itu, untuk melanjutkan obrolan.
Di akhir aku ucapkan "Makasih banyak ya pak," dan bapak itu pergi sambil ngiyakan terimakasih ku.
Senin, 21/10-2019
Nizam_wn

Komentar
Posting Komentar