Pagi ini aku melihat keluar jendela sekretariat ormawa yang sudah aku geluti berkisar satu setengah tahun lamanya. Masih pagi, tapi manusia sudah hingar-bingar melakukan aktivitasnya, berbagai jenis kendaraan melintas dengan kecepatan tinggi di jalan, jalan tol itu tidak pernah sepi. Selalu saja berisik, sekali-dua pernah terjadi kecelakaan disitu. Sudah, bukan itu yang ingin aku ceritakan
Mataku terfokus pada tumbuh-tumbuhan, ada ilalang, pohon jati, mahoni, kelapa dan cemara, adapula tanaman kacang panjang, cabai merah dan rerumputan liar yang daunnya seperti daun maple. Aku jadi teringat Canada, salah satu tempat di Benua Amerika yang ingin aku kunjungi kalau Tuhan mengizinkan. Aamiin
Lalu aku berpikir, apa yang bisa aku pelajari dari tumbuh-tumbuhan ini? Kemudian aku teringat kala dulu ada pohon sawo di samping rumah nenek, ku tebangi sebagian rantingnya, sehingga sebagian sisinya tidak terlihat rimbun lagi. Beberapa minggu kemudian aku kembali, dan ternyata kulihat ada tunas baru yang muncul, ranting-ranting muda terlihat segar, daunnya masih berwarna hijau sangat muda.
Begitulah tumbuhan, ada banyak 'luka-luka' yang menghampirinya. Manusia yang menebang batang, ranting dan mengambil daunnya. Burung yang bersarang, atau hewan-hewan lain. Bahkan sesama tumbuhan yang saling tumpang tindih untuk terus hidup. Tapi, tumbuhan itu tidak peduli, tetap akan tumbuh tunas-tunas, ranting, daun yang baru dan berusaha menutup 'luka'nya, akar-akarnya akan tetap semangat mencari unsur hara, sampai buahnya muncul dan memberikan manfaat.
Dalam kehidupan ini, banyak orang yang menghina kita, baik dari segi ekonomi, penampilan, fisik dan lainnya. Mereka yang tidak suka sama kita, selalu iri, dan lain sebagainya. Sampaikan maaf kepada mereka, kita tidak lahir dan dibesarkan oleh orang tua yang sama, kita tidak datang dari latar belakang keluarga, pendidikan dan daerah yang sama. Kita tidak punya kesukaan, hobi yang sama. Karena masing-masing manusia punya sifat yang berbeda. Wajar bukan kita saling berbeda? Yang terpenting adalah bagaimana kita bijak menyikapinya.
Yang perlu kita garis bawahi adalah, kita tidak akan bisa membuat semua orang suka sama kita, baik itu dari sikap, kelakuan, karya, perkataan, bahkan prestasi sekalipun. Kita tetap harus jadi seperti tumbuhan, harus tetap memunculkan karya-karya baru, prestasi baru, perubahan yang lebih baik, tanpa harus memusingkan orang lain yang tidak merespon baik. Kita disamakan dengan satu kata 'Manusia', yang sejatinya adalah makhluk sosial, yang saling membutuhkan satu sama lain, lalu kenapa kita masih suka tidak peduli? Bahkan saling melempar hinaan.
Kita tidak perlu menjadi seperti orang lain, pahami perbedaan, kita punya jalan masing-masing untuk berkarya, untuk menuntut ilmu, untuk sukses sekalipun. Kita ambil contoh, Dahlan Iskan yang pernah menjadi menteri BUMN RI (Lupakan soal kasus dugaan korupsinya), kisah sukses beliau yang dulunya ingin punya sepatu, kemudian dapat sepatu bekas. Apa kita juga harus pakai sepatu bekas? Contoh lain, Mark Zukerberg, Bill Gates dll, yang pernah Dropout (berhenti kuliah) untuk cerita suksesnya. Apa kita juga harus berhenti kuliah? Saya rasa tidak, karena kita bukan mereka. Yang perlu adalah bagaimana kita bisa mengambil pelajaran dari kisah suskses mereka dan menerapkannya.
Dan yang terakhir, jangan pernah merasa tertinggal. Ingat kembali masing-masing kita punya jalan untuk tujuan tertentu yang ingin kita capai. Selalu ingat, kalau tidak mampu berlomba dengan orang lain dalam urusan dunia, kita bisa melombanya dalam urusan akhirat. Hari ini aku belajar satu hal, ternyata setiap sektor kehidupan memiliki nilai yang bisa diambil pelajaran.
Harus bisa menjadi seperti tumbuhan, meskipun di 'lukai' tetap berusaha untuk tumbuh dan menghasilkan buah agar memberikan manfaat. Rasanya menjadi orang bermanfaat lebih baik dari pada menjadi orang yang sering mendapat pujian atau sanjungan.
Sekian, tulisan ini dikhususkan untuk diri penulis sendiri. Dan untuk pembaca, semoga bermanfaat, Aamiin
Minggu, 27 Oktober 2019
Nizam_wn
Mataku terfokus pada tumbuh-tumbuhan, ada ilalang, pohon jati, mahoni, kelapa dan cemara, adapula tanaman kacang panjang, cabai merah dan rerumputan liar yang daunnya seperti daun maple. Aku jadi teringat Canada, salah satu tempat di Benua Amerika yang ingin aku kunjungi kalau Tuhan mengizinkan. Aamiin
Lalu aku berpikir, apa yang bisa aku pelajari dari tumbuh-tumbuhan ini? Kemudian aku teringat kala dulu ada pohon sawo di samping rumah nenek, ku tebangi sebagian rantingnya, sehingga sebagian sisinya tidak terlihat rimbun lagi. Beberapa minggu kemudian aku kembali, dan ternyata kulihat ada tunas baru yang muncul, ranting-ranting muda terlihat segar, daunnya masih berwarna hijau sangat muda.
Begitulah tumbuhan, ada banyak 'luka-luka' yang menghampirinya. Manusia yang menebang batang, ranting dan mengambil daunnya. Burung yang bersarang, atau hewan-hewan lain. Bahkan sesama tumbuhan yang saling tumpang tindih untuk terus hidup. Tapi, tumbuhan itu tidak peduli, tetap akan tumbuh tunas-tunas, ranting, daun yang baru dan berusaha menutup 'luka'nya, akar-akarnya akan tetap semangat mencari unsur hara, sampai buahnya muncul dan memberikan manfaat.
Dalam kehidupan ini, banyak orang yang menghina kita, baik dari segi ekonomi, penampilan, fisik dan lainnya. Mereka yang tidak suka sama kita, selalu iri, dan lain sebagainya. Sampaikan maaf kepada mereka, kita tidak lahir dan dibesarkan oleh orang tua yang sama, kita tidak datang dari latar belakang keluarga, pendidikan dan daerah yang sama. Kita tidak punya kesukaan, hobi yang sama. Karena masing-masing manusia punya sifat yang berbeda. Wajar bukan kita saling berbeda? Yang terpenting adalah bagaimana kita bijak menyikapinya.
Yang perlu kita garis bawahi adalah, kita tidak akan bisa membuat semua orang suka sama kita, baik itu dari sikap, kelakuan, karya, perkataan, bahkan prestasi sekalipun. Kita tetap harus jadi seperti tumbuhan, harus tetap memunculkan karya-karya baru, prestasi baru, perubahan yang lebih baik, tanpa harus memusingkan orang lain yang tidak merespon baik. Kita disamakan dengan satu kata 'Manusia', yang sejatinya adalah makhluk sosial, yang saling membutuhkan satu sama lain, lalu kenapa kita masih suka tidak peduli? Bahkan saling melempar hinaan.
Kita tidak perlu menjadi seperti orang lain, pahami perbedaan, kita punya jalan masing-masing untuk berkarya, untuk menuntut ilmu, untuk sukses sekalipun. Kita ambil contoh, Dahlan Iskan yang pernah menjadi menteri BUMN RI (Lupakan soal kasus dugaan korupsinya), kisah sukses beliau yang dulunya ingin punya sepatu, kemudian dapat sepatu bekas. Apa kita juga harus pakai sepatu bekas? Contoh lain, Mark Zukerberg, Bill Gates dll, yang pernah Dropout (berhenti kuliah) untuk cerita suksesnya. Apa kita juga harus berhenti kuliah? Saya rasa tidak, karena kita bukan mereka. Yang perlu adalah bagaimana kita bisa mengambil pelajaran dari kisah suskses mereka dan menerapkannya.
Dan yang terakhir, jangan pernah merasa tertinggal. Ingat kembali masing-masing kita punya jalan untuk tujuan tertentu yang ingin kita capai. Selalu ingat, kalau tidak mampu berlomba dengan orang lain dalam urusan dunia, kita bisa melombanya dalam urusan akhirat. Hari ini aku belajar satu hal, ternyata setiap sektor kehidupan memiliki nilai yang bisa diambil pelajaran.
Harus bisa menjadi seperti tumbuhan, meskipun di 'lukai' tetap berusaha untuk tumbuh dan menghasilkan buah agar memberikan manfaat. Rasanya menjadi orang bermanfaat lebih baik dari pada menjadi orang yang sering mendapat pujian atau sanjungan.
Sekian, tulisan ini dikhususkan untuk diri penulis sendiri. Dan untuk pembaca, semoga bermanfaat, Aamiin
Minggu, 27 Oktober 2019
Nizam_wn


Mantap jiwa. Habis baca blog ini jadi tambah semangat lagi 😊
BalasHapusSangat bermanfaat untuk motivasi diri 👍😊
BalasHapusMotivasi pagi hari, wkk. Keren Bang Nizam.
BalasHapusWkwkwkw thanks a lot kak may
Hapus