Langsung ke konten utama

Dua Tipe Pembuang Sampah


   Sampah adalah isu yang tak henti-hentinya menjadi pembahasan di negara ini, atau negara maju sekalipun. Bahkan gara-gara sampah ada gubernur yang saling melempar sindiran satu sama lain. Artinya, sampah menjadi persoalan yang sangat serius untuk dibahas.

       Data yang pernah dipublikasikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memyebutkan, rata-rata sampah yang dihasilkan oleh masyarakat Indonesia berkisar 175.000 ton perhari, sehingga jika diakumulasikan pertahunnya ada sebanyak 64 juta ton sampah. Berdasarkan data ini perorangnya penduduk Indonesia menghasilkan 0,7 Kg perharinya. Sehingga secara sadar seharusnya masing-masing individu mempunyai tanggung jawab besar terhadap permasalahan sampah.

        Berangkat dari data di atas, ada dua kemungkinan respon yang akan muncul dari masyarakat. Pertama, mereka yang hanya berdecak 'Kagum' mendengar data tersebut dan tidak melakukan apa-apa selain menambah kalimat-kalimat kekhawatiran yang bisa saja ditimbulkan dengan jumlah sampah tersebut. Kedua, mereka yang langsung mengambil tindakan, membentuk perkumpulan peduli lingkungan dan melakukan aksi yang berhubungan serta mensosialisasikan pentingnya menjaga kebersihan. Mungkin ada tambahan yang ketiga, yaitu mereka yang kemudian naik gunung dan 'teriak' cinta lingkungan padahal di sekitar tidak terlihat mencintai lingkungan.

        Selain itu, ada persoalan yang mungkin perlu untuk dibahas. Mengenai membuang sampah, alih-alih ingin mewujudkan Indonesia bebas sampah, solusi sederhana yaitu kalimat himbauan 'Buanglah sampah pada tempatnya'.  Mungkin masih banyak yang kurang mengerti, bagaimana tidak? 


         Ayo kita fokus pada kata 'Tempatnya', mungkin, sebagian dari kita beda pemahaman mengenai kata itu. Misal ada sebuah lapangan hijau yang dipenuhi serakan sampah, dan disaat itu juga ada orang yang memegang sampah, karena lapangan tersebut terlihat banyak sampah berserakan, akhirnya ia berpikiran itulah 'Tempatnya' dan dibuanglah sampahnya. Akhirnya, bertambah sampah di lapangan tersebut. Tipe seperti ini adalah orang yang melihat disitu ada sampah, disitulah dia membuang sampah. Contohnya, di sungai, bahu jalan, dan kalau mungkin sampah itu banyak di udara, di udara jugala dia membuang sampahnya.

        Tipe kedua, adalah mereka yang memahami kata 'Tempatnya' benar-benar harus membuang sampah pada tempat sampah (Tong sampah). Jadi, misalnya ada orang yang memegang sampah, sedangkan disekitar banyak sampah berserakan, dia akan tetap mencari dimana tong sampah berada untuk membuang sampahnya. Kalau tidak terlihat tong sampah, maka dia akan menyimpan sampah itu di kantong atau di dalam tas, dan akan membuangnya kalau sudah ketemu tong sampah. Tipe seperti inilah yang harus kita miliki, sederhana memang tapi pengaplikasiannya sangat sulit dilakukan. 
        Apalagi, salah satu solusi lain dari pengurangan jumlah sampah ini adalah mengklasifikasikannya dan memanfaatkannya kembali dengan cara-cara kreatif. Sudah hadir sejak lama, tong-tong sampah sesuai dengan jenis sampahnya. Apa mungkin nanti ada himbauan "Buanglah sampah pada tempatnya sesuai dengan klasifikasinya" (?????) wah berat sekali rasanya bagi kita yang punya kebiasaan tidak pandai membuang sampah!

     Agaknya untuk mewujudkan Indonesia bebas dari sampah, masyarakat harus mempunyai cita-cita yang sama seperti tokoh Fizi yang ada di kartun Upin dan Ipin, kenapa begitu? Karena tidak cukup dengan hanya menandatangani sebuah petisi bertajuk 'Indonesia Bebas Sampah' kalau tidak ada tindakannya. Fizi yang dalam perannya sebagai tokoh yang masih mengenyam kursi taman kanak-kanak ternyata mempunyai cita-cita sebagai seorang pembersih sampah. Artinya sedari kecil seorang Fizi sudah faham akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

          Perlu rasanya, kita menyatukan barisan dan bercita-cita yang sama seperti Fizi untuk menciptakan Indonesia bebas sampah (Dalam segi kebersihan, bukan kita harus jadi pengangkut sampah). Jangan sampai kita saja 'kewalahan' mengelola sampah malah ada impor sampah dari luar.
         Terkadang kita terlupa, memang kalau kita sendiri yang membuang sampah sembarangan walau hanya satu bungkus permen tidak terlalu berpengaruh. Tapi, coba kita kembali berpikir, jika semua orang melakukan hal yang sama seperti kita, apa tidak akan bertambah banyak jumlah sampah yang dihasilkan? Benar, hal-hal kecil itu bisa berdampak besar. 



Tulisan ini dikhususkan untuk diri sendiri dan untuk pembaca semoga bermanfaat.

Rabu, 30 Oktober 2019
nizam_wn

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar dari Tumbuhan

Pagi ini aku melihat keluar jendela sekretariat ormawa yang sudah aku geluti berkisar satu setengah tahun lamanya. Masih pagi, tapi manusia sudah hingar-bingar melakukan aktivitasnya, berbagai jenis kendaraan melintas dengan kecepatan tinggi di jalan, jalan tol itu tidak pernah sepi. Selalu saja berisik, sekali-dua pernah terjadi kecelakaan disitu. Sudah, bukan itu yang ingin aku ceritakan Mataku terfokus pada tumbuh-tumbuhan, ada ilalang, pohon jati, mahoni, kelapa dan cemara, adapula tanaman kacang panjang, cabai merah dan rerumputan liar yang daunnya seperti daun maple. Aku jadi teringat Canada, salah satu tempat di Benua Amerika yang ingin aku kunjungi kalau Tuhan mengizinkan. Aamiin Lalu aku berpikir, apa yang bisa aku pelajari dari tumbuh-tumbuhan ini? Kemudian aku teringat kala dulu ada pohon sawo di samping rumah nenek, ku tebangi sebagian rantingnya, sehingga sebagian sisinya tidak terlihat rimbun lagi. Beberapa minggu kemudian aku kembali, dan ternyata kulihat ada tunas...

Dia Juga Tak Ingin Begitu

  POV: Laut Dendang, Selasa, 16 Februari 2021 sumber gambar: hipwee           Selasa malam selepas ibadah maghrib, ku langkahkan kaki menuju kedai sampah di depan gang, tak sampai lelah kaki dan tak sampai bercucur keringat. Aku tiba disambut dengan seorang bapak yang langsung mengubah air mukanya dan menaikkan alis, menandakan isyarat “Mau beli apa?”.           Aku terdiam sejenak, mataku liar memandangi sembako, jajanan semasa kecil yang berbaris rapi tergantung, dan kulkas mini yang ku tahu menyimpan berbagai macam rasa minuman. Ntahlah sudah menjadi kebiasaan ku, ketika ingin membeli sesuatu di warung se-per-sekian detik harus lupa apa yang harus ku tukarkan. ***           Aku mengambil deterjen, minyak goreng kemasan dengan sendirinya, biasanya juga begitu, apa yang bisa diambil sendiri oleh pembeli, pemilik warung tidak akan pernah marah, justru membantu lelahnya berkurang. Ta...

Potensi Harus Diolah, Niat Harus Dilakukan untuk Indonesia Berkemajuan

Tujuh puluh tiga tahun lalu digaungkan proklamasi kemerdekaan Indonesia oleh presiden soekarno. Selama tujuh puluh tiga tahun jugalah Indonesia telah terbebas dari belenggu kependudukan belanda dan jepang. Kini indonesia berada ditangan anak-anak bangsanya, diusianya yang sekarang negara Indonesia masih menyandang sebagai negara berkembang.  Ada banyak negara yang seusia dengan Indonesia, namun kemajuannya lebih pesat, korea misalnya dari segi teknologi dan entertaiment mereka lebih unggul bahkan anak-anak muda indonesia banyak yang menyukai produk-prosuk yang korea hasilkan. Lalu apakah yang harus Indonesia lakukan untuk bisa sejajar dengan negara-negara maju di dunia? Sebuah kalimat motivasi mengatakan ‘kalau kita ingin maju, maka harus ada niat dan usaha yang harus kita lakukan’ begitupun dengan pepatah agama yang mengatakan bahwa ‘semua yang dilakukan itu tergantung kepada niatnya’, apakah kita sudah memiliki niat untuk maju? Jika sudah lalu apa yang harus kita lak...