Langsung ke konten utama

Menolong Orang Tak Dikenal

        Kemarin, sabtu malam diminggu kedua bulan oktober. Seperti biasa, rutinitas menyambangi pengajian disebuah masjid komplek yang kira-kira jaraknya tempuhnya memakan waktu 15-20 menit. Aku dan bang Ibrahim, sebentar. Bang Ibrahim adalah temanku satu ormawa, mungkin dia akan lebih sering menjadi tokoh dalam cerita-cerita ku, satu lagi ada mas ku, mas Fathoni namanya, dia adalah orang yang selalu aku datangi  kalau senang, susah atau apalah, dia seperti abangku di ormawa ini. Intinya mereka berdualah yang paling sering bersamaku, selebihnya ada teman-teman seangkatan ku, Mahmudi, Iin, Alfi, Agung dan yang lainnya serta beberapa orang perempuan.

        Malam itu rasanya hati dan kepala ku masih tidak sinkron,  dipikiran ku berseliweran nama-nama peserta Pena Persma 2019 (acara terbesar di ormawa ku). Aku senang bertemu mereka, rasanya ingin kusambangi mereka semua ke daerahnya masing-masing. Ah sudahla, semoga Tuhan mengizinkan beberapa waktuku untuk bertemu kembali dengan mereka.

        "Inikan simpangnya wahyu?" Tanya bang Ibrahim tiba-tiba.
Aku tidak terlalu fokus ke jalanan, dari titik awal keberangkatan aku selalu berputar-putar di halaman handphone, ntah kenapa malam itu aku ingin sekali berlama-lama di twitter.

        "Iya bang," jawabku, karena aku melihat minimarket yang biasa kami lintasi dan menjadi tanda simpang masuk kedalam komplek tempat masjid itu berada.

        Suasana masjid sudah ramai, tapi tidak seramai biasanya sudah satu malam aku absen tidak mengaji. Kami duduk diluar pagar masjid, kursi telah disediakan panitia pengajian. Lagi, aku tidak fokus mendengarkan ceramah handphone ku saja yang ku mainkan, ntah kenapa.

        Kelang waktu satu jam kami duduk, kulihat bang Ibrahim tak lagi tegak kepalanya. Aku langsung menyimpulkan bahwa tidurlah yang sedang dilakukannya. Setelah itu, siapa sangka ternyata malam itu langit ingin menangis, semua jemaah diluar menyegerakan dirinya masuk ke teras masjid dan saling berhimpit satu sama lain. Begitupun juga dengan aku, hatiku menggerutu saat kusadari masih ada satu kue lagi yang belum kumakan di dalam kotak. Ah, sayang kue itu sudah kena hujan padahal dipengajian ini kue yang diberikan panitia selalu enak.

        Selesai ceramah, hujan pun selesai turun. Seakan alam sedang merestui para jemaah pulang agar tak basah. Aku pulang dengan pikiran yang lain, kepala ku berpikir keras bagaimana cara menghilangkan noda tinta di celana ku ini. Ternyata di dalam tas yang disandang bang Ibrahim saat kami boncengan ada pulpen yang tintanya luber, sehingga celanaku menjadi tempat tinta itu menempel. Akupun baru tersadar ketika cahaya lebih banyak mengarah kecelana ku. Jadi teringat kala dulu, mamaku begitu marah ketika seragam SD ku terkena tinta, katanya tidak bisa hilang. Ah sudahlah, nanti ku antarkan saja ke laundry, pikirku pendek.
        Sepanjang perjalan pulang, aku berusaha agar celana yang kupakai tidak kembali menempel di tas bang Ibrahim. Tidak ada perbincangan apapun diantara kami, selain saat aku meminjam uangnya untuk membeli sabun cuci muka yang dititipkan mas Fathoni. Ntah kenapa aku ingin hemat berbicara akhir-akhir ini.

        Tiba-tiba bang Ibrahim memelankan kecepatan, dilihatnya ada seorang pria berjalan di atas trotoar kampus sebelah mengenakan jas almamater.  Kemudian ia menyapanya dengan bertanya mau kemana? Terjadilah obrolan singkat, kemudian pria tersebut menerima ajakan bang Ibrahim untuk ikut bersama kami. Akhirnya kami boncengan bertiga, aku ditengah, bang Ibrahim sebagai supir.

        Sepanjang jalan yang tak begitu jauh, aku hanya diam, diam mendengarkan obrolan kedua orang yang berada di depan dan belakang ku itu. Yang kuherankan adalah mereka berdua belum saling mengenal, kukira sebelumnya bang Ibrahim menyapa teman lama atau siapanya, ternyata ia sama sekali belum pernah bertemu bahkan berkenalan dengan orang itu. Ia juga mahasiswa, jenjang semesternya lebih rendah dari kami dan juga beda kampus.

        "Rupanya abang belum kenal ya? Aku kira ntah siapa gitu," tanyaku saat kami telah menurunkan orang itu. Bang Ibrahim hanya diam, fokus melihat jalan. Kelang beberapa menit ia memberi jawaban, padahal akupun tak berharap dijawab.

        "Kitakan gak tau siapa yang akan nolong kita nanti," jawab bang ibrahim, posisinya kami sudah ingin masuk ke gerbang kampus.

        Wah, luar biasa pikirku, setelah mendengar jawabannya. Kalau ditelaah lebih dalam bisa saja orang itu adalah orang jahat, apalagi hari sudah larut. Tapi untunglah tidak. Begitu jelasku pada bang Ibrahim.

        "Gak mungkin terjadi itu dek," katanya lagi menjawab. Sambil ia menceritakan pengalaman serupa yang pernah ia alami sebelumnya.

Minggu, 20/10-2019
Nizam_wn

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Proposal Skripsi Kelar dalam Waktu Satu Minggu? Apa Bisa?

Raut bahagia akhirnya proposal diterima    Ini ceritaku sewaktu ngerjain skripsi, memang perihal ini kadang gak bisa main-main, ya. Ada yang stres, depresi, bahkan bunuh diri. Haduh, alhamdulilah, aku bersyukur tidak sampai stres apalagi depresi.  ***   Di sudut ruang kos ku yang kecil, ditemani laptop, meja kecil, dan kursi pelastik berwarna biru. Di situlah selama sepekan aku berkutat mengerjakannya. Kalian tahu? Begini caraku mengerjakan proposal Bab I s.d. Bab III;  Aku mulai pengerjaan pukul 08.00 pagi, kadang sambil sarapan, kadang lebih dulu sarapan. Lalu, berhenti di pukul 12.00, kemudian istirahat, salat, dan makan siang sampai pukul 14.00.     Lalu, lanjut lagi sampai pukul 16.00, setelah itu berhenti untuk salat asar dan istirahat lagi. Nah, sore hari gini aku keluar kamar, duduk di depan kos sambil menikmati indahnya pekarangan. Di depan kos ku itu ada pohon jambu biji merah, jadi sekalian duduk, aku juga makan jambu. Sesekali olahraga...

Dia Juga Tak Ingin Begitu

  POV: Laut Dendang, Selasa, 16 Februari 2021 sumber gambar: hipwee           Selasa malam selepas ibadah maghrib, ku langkahkan kaki menuju kedai sampah di depan gang, tak sampai lelah kaki dan tak sampai bercucur keringat. Aku tiba disambut dengan seorang bapak yang langsung mengubah air mukanya dan menaikkan alis, menandakan isyarat “Mau beli apa?”.           Aku terdiam sejenak, mataku liar memandangi sembako, jajanan semasa kecil yang berbaris rapi tergantung, dan kulkas mini yang ku tahu menyimpan berbagai macam rasa minuman. Ntahlah sudah menjadi kebiasaan ku, ketika ingin membeli sesuatu di warung se-per-sekian detik harus lupa apa yang harus ku tukarkan. ***           Aku mengambil deterjen, minyak goreng kemasan dengan sendirinya, biasanya juga begitu, apa yang bisa diambil sendiri oleh pembeli, pemilik warung tidak akan pernah marah, justru membantu lelahnya berkurang. Ta...

Semua Orang Punya Waktunya Masing-Masing (?)

  Ternyata orang-orang di sekitar kita itu memang suka bertanya-tanya tentang kita, ya. Ada yang sekadar tanya, ada pula yang ingin membandingkan dengan dirinya , dan ada lagi yang pengin   ngasih solusi atas apa yang ditanyakannya. Paling ribet kalau kita ketemu orang yang kedua, ngebandingin dirinya dengan kita. Ntah dia merasa lebih baik dari kita atau kitanya yang dirasa dia lebih baik. Eittss, kita juga harus ingat, gak semua hal bisa kita tanyakan . Kecuali, kedekatan emosianal kita dengan orang itu udah benar-benar erat. Hehe. Tetapi lebih baik gak usah ditanya, kalau misalnya ragu, kadang kita masih suka latah. Makin kesini rasanya makin kesana, haha. Maksudnya, makin dewasa kita emang dituntut untuk menyusun peta sendiri, mau ke mana dan dari mana . Beruntunglah mereka yang meski pun berangkat dari kesulitan, tetapi punya dada yang lapang. *** Kalian pernah dengar gak, sih, kalimat-kalimat bijak yang mengatakan “Semua orang punya waktu mekarnya masing-masing...